Pertemuan Singkat
”Gue capek dengan hidup gue ini,
nggak ada yang peduli. Mau gue nakal kek, baik kek. Itu urusan gue. Gue aja,
nggak yang lain”. Gumam Dani dalam hatinya. Lalu ia memasukkan beberapa pil
obat-obatan kedalam mulutnya dengan diiringi air mineral yang ia habiskan
sebanyak satu botol AQUA tanggung.
Beberapa menit kemudian, Dani
merasa penglihatannya kunang-kunang. Kurang jelas, matanya sayu.
Perlahan-lahan, matanya meredup.. meredup.. semakin meredup. Hingga akhirnya,
keseimbangannya kacau. Ia telentang sekarang. Tersenyum, tertawa, bahagia
sendiri.
“Ini yang namanya kebahagiaan.
Hahaha”. Katanya sendiri.
--------------------------
Dani berlari
tergesa-gesa. Cepat, bahkan sangat cepat. Ia terlihat mengejar waktu yang sudah
sangat mepet. Saat itu, keadaan
jalanan becek. Kakinya berkali-kali menginjak genangan-genangan air kotor itu,
hingga bajunya agak sedikit basah. Ia menyebrang dengan lari yang cepat. Untung
jalanan kosong, jadi ia bisa terbebas dari kejadian tidak enakan. SMA Batavia,
tempatnya bersekolah. Sudah mulai terlihat. Ia juga melihat pak Bruri, satpam
tua di sekolahnya. Pak Bruri menutup gerbang perlahan. Ada beberapa siswa yang
masih lolos dari tahanan tersebut. Semakin dekat, semakin dekat Dani ke gerbang
hitam kokoh yang akan ia tuju demi masa depannya. Sebenarnya, tujuannya bukan
untuk mencari nama di masa depannya. Tapi lebih tepat, sebagai tempat
pelariannya dari rumahnya yang seperti Jahanam itu.
Glek
”Pak.. pak..
pak!”. Dani mengetok-ngetok gerbang besar itu. “Bapak! Tolong, pak! Pak,
izinkan kami masuk, pak”.
Di situ Dani
tidak sendiri. Disebelahnya, ada seorang cewek yang asing bagi Dani. Terlihat,
cewek itu juga sedang kewalahan merayu sang satpam yang tidak muncul-muncul.
“Ck! Percuma”.
Cewek itu terlihat putus asa.
Dani melihat
cewek itu kelelahan dan sangat menyerah, “bapaaaaaaaak! Tolong, paaaaaaaak!
Masih ada penerus bangsa disini, pak! Yang bersedia merubah sistem kenegaraan
ini, paaaaak! Ayolah, paaaak. Biarkan kami memasuki jalan masa depan kami ini,
paaaaaaak!”.
Kemudian,
suasana hening. Tidak ada yang menyahut. Cewek itu memperhatikan Dani dengan
bingung. Dani merasa seperti orang bodoh. Merayu dengan kata-kata gombalnya
yang ‘krik’! Sangat garing untuk merayu seorang satpam berkumis tebal yang
sangat disiplin itu.
“Udahlah, nggak
akan bisa. Mau lo yakinin sedemikian rupa, nggak akan bisa!”.
Dani bingung,
cewek itu bicara dengan siapa.
“Heh! Udah,
besok jangan telat lagi!”. Tiba-tiba cewek itu balik badan dan berjalan
lunglai.
“Eh.. eh!
Tunggu dulu!”. Dani mengejar pelan cewek itu. Cewek itu menoleh, “terus kita
siasiain aja nih semua usaha kita?”.
“Usaha?”.
“Iyaaa, kita
udah cepet-cepet mandi, cepet-cepet ganti baju, nggak sarapan, nggak dandan,
lari pula”.
“Ooooo, jadi
maksud lo, lo laper sekarang?”. Dani diam. “Ayo, ikut gue”. Cewek itu
menggandeng tangan Dani.
Cewek itu
menggandeng tangan Dani sampai depan komplek sekolah yang nggak terlalu jauh.
Sekarang mereka ada di depan, warteg.
“Eh, kita mau
ngapain?”. Tanya Dani dodol.
“Ha? Foto box!
Ya makanlaaaah!”. Cewek itu mengajak Dani masuk. Dani hanya melongo. “Nah,
sekarang lo mau makan apa?”.
“Lah lah
tapi?”. Dani jadi bingung.
“Udah gue yang
bayar. Tenang aja! Dompet kosong lo aman kok”.
Dani menatap
cewek itu, “kosong? Yeee, enak aja lo! Dompet gue tebel, tau! Gue tuh cuma
bingung aja, kok lo tiba-tiba ngajak gue makan”. Bantah Dani.
“Lo belom
makan, kan? Oh, jadi tebel. Gue nggak jadi bayarin gitu, ya?”.
“Eh.. eh!
Tunggu dulu! Jangan gitulah”. Dani membantah lagi.
“Hahaha. Tenang
aja! Gue lebih tebel kok”. Cewek itu tertawa.
“Yee, sombong
banget, sih”. Dani mendelik. Tapi ia tetap pesan makanan. Satu porsi sayur asam
beserta nasi dan dua potong tempe. “Oiya, ngomong-ngomong. Nama lo siapa?”.
Tanya Dani sambil mengunyah suapan pertamanya.
“Gue, Samandra
Sartika Dewi. Panggil gue, Andra aja ya”. Kata Andra setelah menelan suapan
pertamanya.
“Andra? Kayak
nama cowok”. Ledek Dani dengan disambut pukulan pelan dari Andra.
“Kalo lo
siapa?”. Kata Andra balik bertanya.
Dani menelan
makanannya, “nama gue, Dani”. Kata Dani sambil mengulurkan tangannya dengan
disabut ramah oleh Andra.
“Senang bertemu
denganmu. Hahahaha”. Andra penuh senyum.
“Hahaha”. Tawa Dani
singkat.
“Ngg,
ngomong-ngomong, lo kelas berapa?”. Tanya Andra.
“XII IPS-2.
Kalo lo?”.
“Gue XII IPA-2
hahaha. Jauh ya”. Jawab Andra dengan sambutan senyum Dani.
“Ngg, nanti lo
langsung pulang?”. Tanya Dani datar.
“Nanti? Umm,
nggak tau deh”. Jawab Andra tetap senyum.
“Jalan-jalan,
yuk”.
--------------------------
Hari sudah
larut malam. Dani baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian berjalan-jalan
dengan Andra ke mall.
“Ke mana saja
kamu?”. Tanpa disangka, ayah Dani ada di rumah. Dani tidak menjawab. “Hei, sini
kamu! Kemana saja kamu seharian? Ayah ke sekolah, katanya kamu tidak masuk. Ke mana
saja kamu?”.
“Ngapain ayah
ke sekolah? Masih penting ngurusin Dani? Masih inget Dani?”. Jawab Dani ketus.
Dani langsung berjalan menuju kamarnya.
“Hei, Dani!”.
Ayah Dani terus memanggil. Tetapi Dani sama sekali tidak menghiraukan ayahnya.
Ayahnya terlalu sering mengabaikan Dani.
Dua tahun lalu
ibu Dani meninggal karena penyakit jantung. Ibunya mengidap penyakit itu baru,
setelah mengetahui ayah Dani selingkuh dengan perempuan lain. Sekarang, ayah
Dani tinggal bersama istri barunya di rumah. Dani sama sekali tidak menyukai
hal tersebut. Dani pun juga jarang bertemu ayah dan ibu barunya. Karena ayah
Dani sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan ibu Dani kerja yang tidak tahu
kerjanya apa.
“Damn!”. Batin Dani. “Kenapa sih,
semuanya harus nimpa gue? Emang ya, semuanya nggak selalu adil. Gue benci hidup
gue”. Dani merogoh tasnya. Mengeluarkan seputung rokok dan menyalakannya.
“Jujur, gue mau berubah”.
Tiba-tiba,
wajah Andra muncul dibayangannya. “Andra”. Batinnya. Dani merebahkan tubuhnya
di kasur, “cewek itu muncul tiba-tiba, disaat gue lagi bener-bener jatoh. Gue
nggak nyangka banget”. Tanpa disadari, bibir Andra tersenyum tipis.
------------------
“Hei!”.
Andra mengageti Dani dari belakang, “gue nggak ganggu kan?”. Dani agak kaget,
tapi dia hanya tersenyum dan menggeleng. “Kok lo sendiri, sih?”.
“Sendiri?
Gue udah biasa kok”. Jawab Dani datar.
“Udah
biasa? Sama dong”. Kata Andra polos.
“Sama?
Kok sama?”. Dani agak bingung.
“Iya,
gue nggak pede bergaul”.
“Kok
lo bisa pede gaul sama gue?”.
Pertanyaan
Dani membuat Andra kagok. Ia diam dan tersenyum. Dia ragu untuk menjawab.
“Ngg,
lo.. lo beda, Dan”.
Dani
kaget, Dani menoleh, “maksudnya beda?”.
“Ya..
ya gue, gue woles aja gaul sama lo, main sama lo, ngobrol sama lo. Tapi, kalo
sama yang lain. Gue ngerasa, minder”.
“Minder?”.
Andra tidak menjawab. Tetapi malah meninggalkan Dani di tempatnya.
----------------------
Dani
duduk di bangku kafe tempatnya biasa meluangkan waktu kosongnya. Sebenarnya,
setiap waktu adalah waktu kosongnya. Sekarang seputung rokok dan sebotol
minuman alkohol berada di depannya.
“Gue
rasa, gue udah bener-bener naksir Andra. Tapi dia orang baik-baik, gue nggak
mungkin nyatain perasaan gue ke dia. Gue.. minder”. Gumam Dani.
Sore
ini, Andra duduk disebuah ruang tunggu disalah satu rumah sakit. Ia terduduk
diam bersama ibunya disamping.
“Samandra”.
Seorang suster memanggil namanya. Dirinya dan ibunya bangkit dan membuntuti
sang suster memasuki ruangan. Tapi ibunya menghentikan langkah Andra dan
melarang anaknya ikut masuk. Hanya ibunya dan suster yang memasuki ruangan yang
dituju. Di ruangan itu ada seorang dokter telah menunggu. Ibunya duduk di depan
seorang dokter laki-laki berusia setengah baya itu.
“Penyakit
Samandra semakin parah. Kanker pada bagian dadanya semakin menyerang. Bahkan”.
Sang dokter berhenti.
“Bahkan?
Bahkan apa, dok?”. Ibu Andra semakin penasaran.
“Bahkan
kami dapat memvonis. Bahkan kami dapat memvonis anak ibu”. Dokter berhenti
lagi, “kami dapat memvonis putri ibu tinggal sebulan lagi”.
“Sebulan?
Maksudnya apa, Dok?”.
“Maaf, bu. Kami menyesal mengatakan hal ini. Kami dapat memvonis umur Andra tinggal sebulan lagi. Tapi, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan putri ibu”.
“Maaf, bu. Kami menyesal mengatakan hal ini. Kami dapat memvonis umur Andra tinggal sebulan lagi. Tapi, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan putri ibu”.
Ibu
Andra kaget, sangat kaget. Ia merasa seperti ada petir yang menyambarnya keras,
bahkan sangat sangat keras.
“Dok..”.
Ibu Andra lemas, air matanya mulai keluar.
“Kami
akan berusaha, bu. Kami berusaha agar itu tidak terjadi. Sekarang, kita harus
lebih banyak menyerahkan semuanya pada Tuhan. Agar tidak terjadi hal-hal yang
tidak kita mau, bu”.
“Dok,
saya tidak mau semua itu benar. Saya mau, itu tidak benar, dok”. Ibu Andra
menangis.
“Iya,
bu. Kami akan usahakan semaksimal mungkin”.
----------------------------
Dani
dan Andra tertawa keras sekali. Mereka bercanda daritadi, mereka sangat bahagia
saat itu.
“Gue
lebih suka saat-saat sama lo. Bukan sama keluarga gue”. Kata Andra tiba-tiba.
“Hah?
Kenapa?”. Tanya Dani bingung.
“Semuanya
penuh aturan. Nggak ada yang free buat
gue. Gue mau kayak remaja biasa. Yang bebas, tanpa beban hidup sama sekali.
Kadang, gue bingung sama hidup gue ini. Kenapa ya, Tuhan nggak adil banget sama
hidup gue ini. Bahkan, gue capek”.
Mendengar
kata-kata Andra, Dani merasa ada yang menusuk di dadanya. Kata-kata cewek
disebelahnya itu sangat-sangat mirip dengan apa yang dirasakan Dani.
“Kok
bisa sama, sih? Gue juga gitu. Tapi, gue ngerasa nggak ada yang perhatiin gue.
Cuma lo”.
Andra
kaget, asal tau, gue seneng dan nggak
nyangka lo ngomong gitu. Tapi, gue nggak mau lo kecewa setelah tau yang
sebenarnya. Dan asal lo tau, gue sayang sama lo. Andra hanya bisa bilang
itu dalam hatinya.
“Heh!
Kenapa sih bengong?”. Kata Dani mengagetkan.
“Hahaha
nggak”.
“Enak
ya, lo punya keluarga yang utuh. Nggak kayak gue, semuanya ancur lebur. Gue
benci bokap, dia yang ngancurin semuanya!”.
“Ssstt!”.
Andra memotong pembicaraan Dani, “lo nggak boleh kayak gitu, Dan. Meskipun
begitu, bokap lo udah besarin lo, udah biayain hidup lo. Segalanya”. Nasehat
Andra memang singkat. Tapi, gara-gara Andra yang bicara, Dani jadi tersentuh.
“Gue
harap, gue bisa sama lo lebih lama lagi”. Kata Dani. Andra hanya tersenyum
dengan menyesal. Andra memang mau, tapi Andra tidak yakin. Ia sedih.
Tiba-tiba
bagian bawah hidung Andra keluar darah, “loh, Ndra! Lo kenapa?”. Dani panik,
segera ia mengambil tisu, “lo berdarah, Ndra”.
Andra
kaget dan merasa tidak enak, “iya, nggak papa. Ini udah biasa kok, Dan”. Kata
Andra menenangkan.
“Gue
anter lo pulang ya, Ndra”. Akhirnya mereka pulang.
Sejak
saat itu, Andra lebih waswas pada kesehatannya. Ia takut, Dani tahu dan
menjauhi dirinya. Tapi lama kelamaan, mereka semakin dekat. Melalui waktu-waktu
bahagia bersama. Tanpa ada satu pun yang tau perasaan masing-masing.
Hari
ini, hari Minggu pagi. Andra sedang benar-benar ingin bertemu Dani.
“Ibu,
aku pergi dulu ya”. Pamit Andra pada
ibunya.
“Kamu
mau ke mana?”. Tanya ibunya panik, “kamu nggak boleh terlalu sering main dan ke
luar. Kamu harus jaga kesehatan kamu, nak”.
Andra
terdiam, “bu, aku capek sama semuanya. Hidupku selalu diatur. Nggak boleh ini,
nggak boleh itu. Aku mau bebas, bu. Apa karena aku sakit, aku nggak bisa
nikmatin masa remaja aku?”.
Ibu
Andra terdiam. Hari ini adalah yang menegangkan untuk ibu Andra. Ibu Andra
masih teringat kata-kata dokter sebulan lalu.
“Tolong,
bu”. Ibu Andra menyerah. Dengan ikhlas, ia merelakan putri malangnya itu pergi.
---------------------
Motor
Dani melaju pelan di sekitar jalanan Jakarta. Hari itu, Andra mengajak Dani
memutar-mutar Jakarta. Mereka bercanda seharian. Dari mall ke mall dan dari museum ke museum. Sorenya, Dani mengajak Andra ke
tempat kesukaan mereka. Sore itu, pemandangannya sangat indah. Matahari yang
hampir tenggelam, memancarkan keindahan orange
nya. Sawah dan sungai kecil terhampar luas. Bahkan kebetulan, pelangi tergores
tipis di langit biru yang mulai orange
itu.
Sore
itu, Dani akan jujur pada Andra tentang semuanya, “gue seneng hari ini, Ndra.
Gue bisa sehariaaaann sama lo. Kita kan nggak pernah kayak gini”.
“Yah,
lo, Dan. Apalagi gue”. Kata Andra tertawa.
“Semoga,
kita bisa kayak gini terus ya, Ndra”. Kata Dani lagi. Andra hanya tersenyum,
“Ndra, gue mau ngomong sama lo”.
Andra
bingung, “seinget gue, daritadi kita ngomong terus, Dan”.
“Nggak,
Ndra. Kali ini gue serius”. Andra terdiam. “Gue mau jujur sama lo”.
“Soal
apa?”. Tanya Andra.
“Gue
emang nggak pantes ngomong ini. Sebelumnya, gue mohon maaf sama lo. Gue nggak
pernah jujur sama lo”. Dani diam sejenak, “gue anak nakal, Ndra”.
“Maksud
lo?”.
“Kayak
yang lo tau, keluarga gue emang udah ancur dan nggak ada harapan buat bahagia”.
“Iya
gue tahu, gue pesenin lo lebih mandiri lagi. Lo jangan andelin keluarga lo. Lo
bisa sendiri! Dan asal lo tahu, semuanya sayang sama lo, tanpa kecuali”. Kata
Andra panjang lebar. Dani tertegun.
“Makasih
banyak, Ndra. Setelah ada lo, semuanya terasa lebih mudah. Tapi, gue tetep
ngelakuin”.
“Maksudnya?”.
“Ya,
Ndra. Gue ngelampiasin itu semua sama, rokok, alkohol dan”. Dani menelan ludah,
“narkoba”.
Andra
terbelalak. Dani merasa tidak enak. Tapi Andra tetap tersenyum, “gue harap,
mulai hari ini nggak lagi, Dan”.
“Nggak,
nggak, Ndra! Gue janji. Nggak akan!”. Kata Dani cepat-cepat.
“Lo
harus janji. Ada, maupun nggak ada gue”.
Dani
mengerenyitkan dahi, “gue harap lo selalu ada di sini, sama gue. Karena, karena
gue sayang. Gue jatuh cinta, Ndra sama lo”. Andra kaget, sangat kaget. Ia
merasa terombang ambing dalam ombak dalam dirinya.
Andra
mengela nafas, “makasi, Dan. Makasiiii banget. Maafin gue juga ya, Dan. Kalo
gue nggak ada disamping lo. Waktu-waktu sama lo sangat sangat berharga buat
gue”. Tiba-tiba, Andra merasakan sesak di dadanya dan ia merasakan getaran
hebat di kepalanya, membuatnya pusing seketika. Ia memegang kepalanya.
“Lo
kenapa, Ndra?”. Dani mulai panik.
“Nggak…
gue nggak papa”. Andra menahan sakitnya dan mempertahankan berdirinya. Tapi
tetap saja rasa sakit menyerang, bahkan lebih sakit dari sebelumnya, “gue
sayang banget sama lo, Dan! Gue juga cinta sama lo!”. Kata Andra cepat-cepat.
Dani
kaget bercampur senang. Tapi tiba-tiba
tubuh Andra goyah dan akhirnya jatuh. Perlahan-lahan, darah keluar dari
hidungnya lagi. Mata Andra terpejam dipangkuan Dani. Ia masih bernafas, tapi
bibirnya bergetar. Dengan cepat, Dani melarikan Andra ke rumah sakit.
Orang
tua Andra langsung ke rumah sakit dan bertemu Dani. Dani sebenarnya bingung,
kenapa Andra tiba-tiba kacau kesehatannya. Dani berdiri menghadap tembok,
panik.
Ibu
Andra menghampiri Dani, membelai rambut cowok itu. Tanpa diduga, Dani memeluk
ibu Andra. Ia agak sedikit menyesal dengan kejadian sore itu. Tapi ibu Andra
sama sekali tidak terlihat menyalahkan Dani.
Dokter
keluar dari ruang ICU, “bagaimana, dok?”. Tanya ibu Andra kaget.
Dokter
itu hanya tertunduk, “saya menyesal, bu. Kami semua telah mengusahakan
semuanya. Tapi, satu bulan itu memang benar-benar terjadi”. Ibu Andra sangat
kaget mendengar itu, ayah maupun kakak-kakak Andra juga sangat kaget. Tapi Dani
hanya bengong mendengar ucapan dokter. Ia memandangi keluarga Andra yang sangat
sedih. Dani semakin bingung.
“Maksud
dokter, apa? Maksud dokter, apa?”. Bentak ayah Andra.
“Maaf,
pak. Maaf, bu. Maaf, semuanya. Kami sudah berusaha. Tapi, Andra memang sudah
benar-benar tidak selamat”.
Ibu
Andra kaget, ayah Andra dan keluarganya juga. Dani masih bengong, “maksudnya?
Maksudnya ini semua apa, tante?”. Tanya Dani agak keras.
“Dan,
kamu nggak tau yang sebenarnya”. Ibu Andra menangis.
“Jadi
sebenarnya ada apa, tante?”. Tanya Dani.
“Andra
mengidap penyakit kanker sejak lama. Dari usianya saat dia duduk di kelas dua
SD. Nggak ada yang tau selain kami semua”. Ayah Andra angkat bicara.
“Dan
sebulan lalu, dokter bilang sama tante. Bahwa”. Ibu Andra menangis keras,
“bahwa usia Andra sebulan lagi”.
Dani
bingung, dahinya mengerenyit, mulutnya ternganga. “Sebulan lalu, tante? Sebulan
lalu usianya sebulan lagi? Dan sekarang?”. Semuanya hanya diam. Hanya suara
tangis yang terdengar. Dani tertunduk lemas, detik itu sangat menusuk bagi
dirinya. Perlahan ia jongkok dan menutupi wajahnya. Dan segera ia bangkit lagi
memasuki ruang ICU. Di depannya, tubuh Andra terbaring kaku. “Ndra? Kenapa kamu
nggak pernah bilang, sih? Kamu tau? Kamu adalah yang berarti buat aku saat ini.
Aku, aku nggak nyangka orang yang aku sayang ninggalin aku lagi. Dan, aku nggak
tau harus gimana tanpa kamu. Kenapa hidup aku harus ancur, sih?”. Dani menangis
disamping tubuh Andra yang sekarang sudah menjadi jasad.
“Dan,
kami mohon kamu relain Andra dan tolong jaga baik-baik pesan Andra, Dan”. Kata
ayah Andra pelan.
“Om,
apa om dan tante. Dan semuanya nggak sedih ngeliat Andra begini?”. Tanya Dani
keras.
“Dan,
sabar, Dan. Kami udah siap ngadepin ini dari jauh-jauh hari. Om tau, kamu shock berat. Karena, kamu baru tau”.
Dani
hanya terdiam. Tidak tau harus bicara apa.
-----------------------
Dani
terjongkok di depan batu nisan Andra. “Nggak nyangka ya, Ndra. Kita baru ketemu
udah dipisahin gitu aja. Baruuu aja. Makasi buat semuanya, Ndra. Kamu berarti
banget buat aku, kamu bisa ngerubah aku jadi lebih mandiri dari sebelumnya.
Sekarang, aku nggak akan mau lagi ngerokok, minum, apalagi narkoba. Aku berubah
karena kamu”. Dani tersenyum.
Mengenal
Andra adalah sesuatu yang besar bagi hidup Dani. Tujuh tahun kemudian, ia bisa
lulus dari SMA dengan nilai bagus dan teman-teman yang baik. Lalu ia bisa
kuliah di perguruan tinggi negeri yang bagus dan lulus dengan nilai sempurna.
Lalu sekarang, ia bisa mendirikan perusahaan besar yang sukses.
“Makasi
banyak, Samandra”. Ucapnya setiap ia melangkah.
0 komentar:
Posting Komentar