THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Senin, 13 Mei 2013

SHORT STORY by ME


Pertemuan Singkat


”Gue capek dengan hidup gue ini, nggak ada yang peduli. Mau gue nakal kek, baik kek. Itu urusan gue. Gue aja, nggak yang lain”. Gumam Dani dalam hatinya. Lalu ia memasukkan beberapa pil obat-obatan kedalam mulutnya dengan diiringi air mineral yang ia habiskan sebanyak satu botol AQUA tanggung.
Beberapa menit kemudian, Dani merasa penglihatannya kunang-kunang. Kurang jelas, matanya sayu. Perlahan-lahan, matanya meredup.. meredup.. semakin meredup. Hingga akhirnya, keseimbangannya kacau. Ia telentang sekarang. Tersenyum, tertawa, bahagia sendiri.
“Ini yang namanya kebahagiaan. Hahaha”. Katanya sendiri.
--------------------------
          Dani berlari tergesa-gesa. Cepat, bahkan sangat cepat. Ia terlihat mengejar waktu yang sudah sangat mepet. Saat itu, keadaan jalanan becek. Kakinya berkali-kali menginjak genangan-genangan air kotor itu, hingga bajunya agak sedikit basah. Ia menyebrang dengan lari yang cepat. Untung jalanan kosong, jadi ia bisa terbebas dari kejadian tidak enakan. SMA Batavia, tempatnya bersekolah. Sudah mulai terlihat. Ia juga melihat pak Bruri, satpam tua di sekolahnya. Pak Bruri menutup gerbang perlahan. Ada beberapa siswa yang masih lolos dari tahanan tersebut. Semakin dekat, semakin dekat Dani ke gerbang hitam kokoh yang akan ia tuju demi masa depannya. Sebenarnya, tujuannya bukan untuk mencari nama di masa depannya. Tapi lebih tepat, sebagai tempat pelariannya dari rumahnya yang seperti Jahanam itu.
          Glek
          ”Pak.. pak.. pak!”. Dani mengetok-ngetok gerbang besar itu. “Bapak! Tolong, pak! Pak, izinkan kami masuk, pak”.
          Di situ Dani tidak sendiri. Disebelahnya, ada seorang cewek yang asing bagi Dani. Terlihat, cewek itu juga sedang kewalahan merayu sang satpam yang tidak muncul-muncul.
          “Ck! Percuma”. Cewek itu terlihat putus asa.
          Dani melihat cewek itu kelelahan dan sangat menyerah, “bapaaaaaaaak! Tolong, paaaaaaaak! Masih ada penerus bangsa disini, pak! Yang bersedia merubah sistem kenegaraan ini, paaaaak! Ayolah, paaaak. Biarkan kami memasuki jalan masa depan kami ini, paaaaaaak!”.
          Kemudian, suasana hening. Tidak ada yang menyahut. Cewek itu memperhatikan Dani dengan bingung. Dani merasa seperti orang bodoh. Merayu dengan kata-kata gombalnya yang ‘krik’! Sangat garing untuk merayu seorang satpam berkumis tebal yang sangat disiplin itu.
          “Udahlah, nggak akan bisa. Mau lo yakinin sedemikian rupa, nggak akan bisa!”.
          Dani bingung, cewek itu bicara dengan siapa.
          “Heh! Udah, besok jangan telat lagi!”. Tiba-tiba cewek itu balik badan dan berjalan lunglai.
          “Eh.. eh! Tunggu dulu!”. Dani mengejar pelan cewek itu. Cewek itu menoleh, “terus kita siasiain aja nih semua usaha kita?”.
          “Usaha?”.
          “Iyaaa, kita udah cepet-cepet mandi, cepet-cepet ganti baju, nggak sarapan, nggak dandan, lari pula”.
          “Ooooo, jadi maksud lo, lo laper sekarang?”. Dani diam. “Ayo, ikut gue”. Cewek itu menggandeng tangan Dani.
          Cewek itu menggandeng tangan Dani sampai depan komplek sekolah yang nggak terlalu jauh. Sekarang mereka ada di depan, warteg.
          “Eh, kita mau ngapain?”. Tanya Dani dodol.
          “Ha? Foto box! Ya makanlaaaah!”. Cewek itu mengajak Dani masuk. Dani hanya melongo. “Nah, sekarang lo mau makan apa?”.
          “Lah lah tapi?”. Dani jadi bingung.
          “Udah gue yang bayar. Tenang aja! Dompet kosong lo aman kok”.
          Dani menatap cewek itu, “kosong? Yeee, enak aja lo! Dompet gue tebel, tau! Gue tuh cuma bingung aja, kok lo tiba-tiba ngajak gue makan”. Bantah Dani.
          “Lo belom makan, kan? Oh, jadi tebel. Gue nggak jadi bayarin gitu, ya?”.
          “Eh.. eh! Tunggu dulu! Jangan gitulah”. Dani membantah lagi.
          “Hahaha. Tenang aja! Gue lebih tebel kok”. Cewek itu tertawa.
          “Yee, sombong banget, sih”. Dani mendelik. Tapi ia tetap pesan makanan. Satu porsi sayur asam beserta nasi dan dua potong tempe. “Oiya, ngomong-ngomong. Nama lo siapa?”. Tanya Dani sambil mengunyah suapan pertamanya.
          “Gue, Samandra Sartika Dewi. Panggil gue, Andra aja ya”. Kata Andra setelah menelan suapan pertamanya.
          “Andra? Kayak nama cowok”. Ledek Dani dengan disambut pukulan pelan dari Andra.
          “Kalo lo siapa?”. Kata Andra balik bertanya.
          Dani menelan makanannya, “nama gue, Dani”. Kata Dani sambil mengulurkan tangannya dengan disabut ramah oleh Andra.
          “Senang bertemu denganmu. Hahahaha”. Andra penuh senyum.       
          “Hahaha”. Tawa Dani singkat.
          “Ngg, ngomong-ngomong, lo kelas berapa?”. Tanya Andra.     
          “XII IPS-2. Kalo lo?”.
          “Gue XII IPA-2 hahaha. Jauh ya”. Jawab Andra dengan sambutan senyum Dani.
          “Ngg, nanti lo langsung pulang?”. Tanya Dani datar.
          “Nanti? Umm, nggak tau deh”. Jawab Andra tetap senyum.
          “Jalan-jalan, yuk”.

--------------------------

          Hari sudah larut malam. Dani baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian berjalan-jalan dengan Andra ke mall.
          “Ke mana saja kamu?”. Tanpa disangka, ayah Dani ada di rumah. Dani tidak menjawab. “Hei, sini kamu! Kemana saja kamu seharian? Ayah ke sekolah, katanya kamu tidak masuk. Ke mana saja kamu?”.
          “Ngapain ayah ke sekolah? Masih penting ngurusin Dani? Masih inget Dani?”. Jawab Dani ketus. Dani langsung berjalan menuju kamarnya.
          “Hei, Dani!”. Ayah Dani terus memanggil. Tetapi Dani sama sekali tidak menghiraukan ayahnya. Ayahnya terlalu sering mengabaikan Dani.
          Dua tahun lalu ibu Dani meninggal karena penyakit jantung. Ibunya mengidap penyakit itu baru, setelah mengetahui ayah Dani selingkuh dengan perempuan lain. Sekarang, ayah Dani tinggal bersama istri barunya di rumah. Dani sama sekali tidak menyukai hal tersebut. Dani pun juga jarang bertemu ayah dan ibu barunya. Karena ayah Dani sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan ibu Dani kerja yang tidak tahu kerjanya apa.
          “Damn!”. Batin Dani. “Kenapa sih, semuanya harus nimpa gue? Emang ya, semuanya nggak selalu adil. Gue benci hidup gue”. Dani merogoh tasnya. Mengeluarkan seputung rokok dan menyalakannya. “Jujur, gue mau berubah”.
          Tiba-tiba, wajah Andra muncul dibayangannya. “Andra”. Batinnya. Dani merebahkan tubuhnya di kasur, “cewek itu muncul tiba-tiba, disaat gue lagi bener-bener jatoh. Gue nggak nyangka banget”. Tanpa disadari, bibir Andra tersenyum tipis.
------------------
          “Hei!”. Andra mengageti Dani dari belakang, “gue nggak ganggu kan?”. Dani agak kaget, tapi dia hanya tersenyum dan menggeleng. “Kok lo sendiri, sih?”.
          “Sendiri? Gue udah biasa kok”. Jawab Dani datar.
          “Udah biasa? Sama dong”. Kata Andra polos.
          “Sama? Kok sama?”. Dani agak bingung.
          “Iya, gue nggak pede bergaul”.
          “Kok lo bisa pede gaul sama gue?”.
          Pertanyaan Dani membuat Andra kagok. Ia diam dan tersenyum. Dia ragu untuk menjawab.

          “Ngg, lo.. lo beda, Dan”.
          Dani kaget, Dani menoleh, “maksudnya beda?”.
          “Ya.. ya gue, gue woles aja gaul sama lo, main sama lo, ngobrol sama lo. Tapi, kalo sama yang lain. Gue ngerasa, minder”.       
          “Minder?”. Andra tidak menjawab. Tetapi malah meninggalkan Dani di tempatnya.

----------------------
          Dani duduk di bangku kafe tempatnya biasa meluangkan waktu kosongnya. Sebenarnya, setiap waktu adalah waktu kosongnya. Sekarang seputung rokok dan sebotol minuman alkohol berada di depannya.
          “Gue rasa, gue udah bener-bener naksir Andra. Tapi dia orang baik-baik, gue nggak mungkin nyatain perasaan gue ke dia. Gue.. minder”. Gumam Dani.
          Sore ini, Andra duduk disebuah ruang tunggu disalah satu rumah sakit. Ia terduduk diam bersama ibunya disamping.
          “Samandra”. Seorang suster memanggil namanya. Dirinya dan ibunya bangkit dan membuntuti sang suster memasuki ruangan. Tapi ibunya menghentikan langkah Andra dan melarang anaknya ikut masuk. Hanya ibunya dan suster yang memasuki ruangan yang dituju. Di ruangan itu ada seorang dokter telah menunggu. Ibunya duduk di depan seorang dokter laki-laki berusia setengah baya itu.
          “Penyakit Samandra semakin parah. Kanker pada bagian dadanya semakin menyerang. Bahkan”. Sang dokter berhenti.

          “Bahkan? Bahkan apa, dok?”. Ibu Andra semakin penasaran.
          “Bahkan kami dapat memvonis. Bahkan kami dapat memvonis anak ibu”. Dokter berhenti lagi, “kami dapat memvonis putri ibu tinggal sebulan lagi”.
          “Sebulan? Maksudnya apa, Dok?”.
          “Maaf, bu. Kami menyesal mengatakan hal ini. Kami dapat memvonis umur Andra tinggal sebulan lagi. Tapi, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan putri ibu”.
          Ibu Andra kaget, sangat kaget. Ia merasa seperti ada petir yang menyambarnya keras, bahkan sangat sangat keras.
          “Dok..”. Ibu Andra lemas, air matanya mulai keluar.
          “Kami akan berusaha, bu. Kami berusaha agar itu tidak terjadi. Sekarang, kita harus lebih banyak menyerahkan semuanya pada Tuhan. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita mau, bu”.
          “Dok, saya tidak mau semua itu benar. Saya mau, itu tidak benar, dok”. Ibu Andra menangis.
          “Iya, bu. Kami akan usahakan semaksimal mungkin”.
----------------------------
          Dani dan Andra tertawa keras sekali. Mereka bercanda daritadi, mereka sangat bahagia saat itu.
          “Gue lebih suka saat-saat sama lo. Bukan sama keluarga gue”. Kata Andra tiba-tiba.
          “Hah? Kenapa?”. Tanya Dani bingung.
          “Semuanya penuh aturan. Nggak ada yang free buat gue. Gue mau kayak remaja biasa. Yang bebas, tanpa beban hidup sama sekali. Kadang, gue bingung sama hidup gue ini. Kenapa ya, Tuhan nggak adil banget sama hidup gue ini. Bahkan, gue capek”.
          Mendengar kata-kata Andra, Dani merasa ada yang menusuk di dadanya. Kata-kata cewek disebelahnya itu sangat-sangat mirip dengan apa yang dirasakan Dani.
          “Kok bisa sama, sih? Gue juga gitu. Tapi, gue ngerasa nggak ada yang perhatiin gue. Cuma lo”.
          Andra kaget, asal tau, gue seneng dan nggak nyangka lo ngomong gitu. Tapi, gue nggak mau lo kecewa setelah tau yang sebenarnya. Dan asal lo tau, gue sayang sama lo. Andra hanya bisa bilang itu dalam hatinya.
          “Heh! Kenapa sih bengong?”. Kata Dani mengagetkan.
          “Hahaha nggak”.
          “Enak ya, lo punya keluarga yang utuh. Nggak kayak gue, semuanya ancur lebur. Gue benci bokap, dia yang ngancurin semuanya!”.
          “Ssstt!”. Andra memotong pembicaraan Dani, “lo nggak boleh kayak gitu, Dan. Meskipun begitu, bokap lo udah besarin lo, udah biayain hidup lo. Segalanya”. Nasehat Andra memang singkat. Tapi, gara-gara Andra yang bicara, Dani jadi tersentuh.
          “Gue harap, gue bisa sama lo lebih lama lagi”. Kata Dani. Andra hanya tersenyum dengan menyesal. Andra memang mau, tapi Andra tidak yakin. Ia sedih.
          Tiba-tiba bagian bawah hidung Andra keluar darah, “loh, Ndra! Lo kenapa?”. Dani panik, segera ia mengambil tisu, “lo berdarah, Ndra”.
          Andra kaget dan merasa tidak enak, “iya, nggak papa. Ini udah biasa kok, Dan”. Kata Andra menenangkan.
          “Gue anter lo pulang ya, Ndra”. Akhirnya mereka pulang.
          Sejak saat itu, Andra lebih waswas pada kesehatannya. Ia takut, Dani tahu dan menjauhi dirinya. Tapi lama kelamaan, mereka semakin dekat. Melalui waktu-waktu bahagia bersama. Tanpa ada satu pun yang tau perasaan masing-masing.
          Hari ini, hari Minggu pagi. Andra sedang benar-benar ingin bertemu Dani.
          “Ibu, aku pergi dulu ya”.  Pamit Andra pada ibunya.
          “Kamu mau ke mana?”. Tanya ibunya panik, “kamu nggak boleh terlalu sering main dan ke luar. Kamu harus jaga kesehatan kamu, nak”.
          Andra terdiam, “bu, aku capek sama semuanya. Hidupku selalu diatur. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Aku mau bebas, bu. Apa karena aku sakit, aku nggak bisa nikmatin masa remaja aku?”.
          Ibu Andra terdiam. Hari ini adalah yang menegangkan untuk ibu Andra. Ibu Andra masih teringat kata-kata dokter sebulan lalu.
          “Tolong, bu”. Ibu Andra menyerah. Dengan ikhlas, ia merelakan putri malangnya itu pergi.
---------------------
          Motor Dani melaju pelan di sekitar jalanan Jakarta. Hari itu, Andra mengajak Dani memutar-mutar Jakarta. Mereka bercanda seharian. Dari mall  ke mall dan dari museum ke museum. Sorenya, Dani mengajak Andra ke tempat kesukaan mereka. Sore itu, pemandangannya sangat indah. Matahari yang hampir tenggelam, memancarkan keindahan orange nya. Sawah dan sungai kecil terhampar luas. Bahkan kebetulan, pelangi tergores tipis di langit biru yang mulai orange itu.

          Sore itu, Dani akan jujur pada Andra tentang semuanya, “gue seneng hari ini, Ndra. Gue bisa sehariaaaann sama lo. Kita kan nggak pernah kayak gini”.
          “Yah, lo, Dan. Apalagi gue”. Kata Andra tertawa.
          “Semoga, kita bisa kayak gini terus ya, Ndra”. Kata Dani lagi. Andra hanya tersenyum, “Ndra, gue mau ngomong sama lo”.
          Andra bingung, “seinget gue, daritadi kita ngomong terus, Dan”.
          “Nggak, Ndra. Kali ini gue serius”. Andra terdiam. “Gue mau jujur sama lo”.
          “Soal apa?”. Tanya Andra.
          “Gue emang nggak pantes ngomong ini. Sebelumnya, gue mohon maaf sama lo. Gue nggak pernah jujur sama lo”. Dani diam sejenak, “gue anak nakal, Ndra”.
          “Maksud lo?”.
          “Kayak yang lo tau, keluarga gue emang udah ancur dan nggak ada harapan buat bahagia”.
          “Iya gue tahu, gue pesenin lo lebih mandiri lagi. Lo jangan andelin keluarga lo. Lo bisa sendiri! Dan asal lo tahu, semuanya sayang sama lo, tanpa kecuali”. Kata Andra panjang lebar. Dani tertegun.     
          “Makasih banyak, Ndra. Setelah ada lo, semuanya terasa lebih mudah. Tapi, gue tetep ngelakuin”.
          “Maksudnya?”.
          “Ya, Ndra. Gue ngelampiasin itu semua sama, rokok, alkohol dan”. Dani menelan ludah, “narkoba”.
          Andra terbelalak. Dani merasa tidak enak. Tapi Andra tetap tersenyum, “gue harap, mulai hari ini nggak lagi, Dan”.
          “Nggak, nggak, Ndra! Gue janji. Nggak akan!”. Kata Dani cepat-cepat.
          “Lo harus janji. Ada, maupun nggak ada gue”.
          Dani mengerenyitkan dahi, “gue harap lo selalu ada di sini, sama gue. Karena, karena gue sayang. Gue jatuh cinta, Ndra sama lo”. Andra kaget, sangat kaget. Ia merasa terombang ambing dalam ombak dalam dirinya.
          Andra mengela nafas, “makasi, Dan. Makasiiii banget. Maafin gue juga ya, Dan. Kalo gue nggak ada disamping lo. Waktu-waktu sama lo sangat sangat berharga buat gue”. Tiba-tiba, Andra merasakan sesak di dadanya dan ia merasakan getaran hebat di kepalanya, membuatnya pusing seketika. Ia memegang kepalanya.
          “Lo kenapa, Ndra?”. Dani mulai panik.
          “Nggak… gue nggak papa”. Andra menahan sakitnya dan mempertahankan berdirinya. Tapi tetap saja rasa sakit menyerang, bahkan lebih sakit dari sebelumnya, “gue sayang banget sama lo, Dan! Gue juga cinta sama lo!”. Kata Andra cepat-cepat.
          Dani kaget  bercampur senang. Tapi tiba-tiba tubuh Andra goyah dan akhirnya jatuh. Perlahan-lahan, darah keluar dari hidungnya lagi. Mata Andra terpejam dipangkuan Dani. Ia masih bernafas, tapi bibirnya bergetar. Dengan cepat, Dani melarikan Andra ke rumah sakit.
          Orang tua Andra langsung ke rumah sakit dan bertemu Dani. Dani sebenarnya bingung, kenapa Andra tiba-tiba kacau kesehatannya. Dani berdiri menghadap tembok, panik.
          Ibu Andra menghampiri Dani, membelai rambut cowok itu. Tanpa diduga, Dani memeluk ibu Andra. Ia agak sedikit menyesal dengan kejadian sore itu. Tapi ibu Andra sama sekali tidak terlihat menyalahkan Dani.     
          Dokter keluar dari ruang ICU, “bagaimana, dok?”. Tanya ibu Andra kaget.
          Dokter itu hanya tertunduk, “saya menyesal, bu. Kami semua telah mengusahakan semuanya. Tapi, satu bulan itu memang benar-benar terjadi”. Ibu Andra sangat kaget mendengar itu, ayah maupun kakak-kakak Andra juga sangat kaget. Tapi Dani hanya bengong mendengar ucapan dokter. Ia memandangi keluarga Andra yang sangat sedih. Dani semakin bingung.
          “Maksud dokter, apa? Maksud dokter, apa?”. Bentak ayah Andra.
          “Maaf, pak. Maaf, bu. Maaf, semuanya. Kami sudah berusaha. Tapi, Andra memang sudah benar-benar tidak selamat”.
          Ibu Andra kaget, ayah Andra dan keluarganya juga. Dani masih bengong, “maksudnya? Maksudnya ini semua apa, tante?”. Tanya Dani agak keras.
          “Dan, kamu nggak tau yang sebenarnya”. Ibu Andra menangis.
          “Jadi sebenarnya ada apa, tante?”. Tanya Dani.
          “Andra mengidap penyakit kanker sejak lama. Dari usianya saat dia duduk di kelas dua SD. Nggak ada yang tau selain kami semua”. Ayah Andra angkat bicara.
          “Dan sebulan lalu, dokter bilang sama tante. Bahwa”. Ibu Andra menangis keras, “bahwa usia Andra sebulan lagi”.
          Dani bingung, dahinya mengerenyit, mulutnya ternganga. “Sebulan lalu, tante? Sebulan lalu usianya sebulan lagi? Dan sekarang?”. Semuanya hanya diam. Hanya suara tangis yang terdengar. Dani tertunduk lemas, detik itu sangat menusuk bagi dirinya. Perlahan ia jongkok dan menutupi wajahnya. Dan segera ia bangkit lagi memasuki ruang ICU. Di depannya, tubuh Andra terbaring kaku. “Ndra? Kenapa kamu nggak pernah bilang, sih? Kamu tau? Kamu adalah yang berarti buat aku saat ini. Aku, aku nggak nyangka orang yang aku sayang ninggalin aku lagi. Dan, aku nggak tau harus gimana tanpa kamu. Kenapa hidup aku harus ancur, sih?”. Dani menangis disamping tubuh Andra yang sekarang sudah menjadi jasad.
          “Dan, kami mohon kamu relain Andra dan tolong jaga baik-baik pesan Andra, Dan”. Kata ayah Andra pelan.
          “Om, apa om dan tante. Dan semuanya nggak sedih ngeliat Andra begini?”. Tanya Dani keras.
          “Dan, sabar, Dan. Kami udah siap ngadepin ini dari jauh-jauh hari. Om tau, kamu shock berat. Karena, kamu baru tau”.
          Dani hanya terdiam. Tidak tau harus bicara apa.
-----------------------
          Dani terjongkok di depan batu nisan Andra. “Nggak nyangka ya, Ndra. Kita baru ketemu udah dipisahin gitu aja. Baruuu aja. Makasi buat semuanya, Ndra. Kamu berarti banget buat aku, kamu bisa ngerubah aku jadi lebih mandiri dari sebelumnya. Sekarang, aku nggak akan mau lagi ngerokok, minum, apalagi narkoba. Aku berubah karena kamu”. Dani tersenyum.
          Mengenal Andra adalah sesuatu yang besar bagi hidup Dani. Tujuh tahun kemudian, ia bisa lulus dari SMA dengan nilai bagus dan teman-teman yang baik. Lalu ia bisa kuliah di perguruan tinggi negeri yang bagus dan lulus dengan nilai sempurna. Lalu sekarang, ia bisa mendirikan perusahaan besar yang sukses.
          “Makasi banyak, Samandra”. Ucapnya setiap ia melangkah.

0 komentar: